Oleh Kiptiah
Fenomena wanita berjilbab bukan hal baru yang dapat ditemui di
kota besar Jakarta atau kota lainnya. Maha Suci Allah yang telah
menganugerahkan Hidayah kepada hamba-hambaNya untuk menutup aurat
mereka.
Namun bila diperhatikan, ada banyak kejanggalan yang terlihat dari
maraknya muslimah berjilbab. Berjilbab tapi telanjang. Ya, seperti
itulah yang sekarang marak terlihat di mana-mana. Mereka yang menutup
rapat seluruh tubuh mereka tapi sayang untuk menutup secara benar semua
lekuk tubuh mereka. Berkerudung pendek disertai dengan kaos lengan
panjang yang menampakkan lekuk payudara serta bercelana jeans yang
menampakkan betapa indah dan jenjangnya kaki mereka.
Wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang indah. Setiap jengkal dari
tubuh mereka bernilai keindahan. Jika dahulu, para wanita memiliki rasa
malu dan takut yang teramat sangat sehingga menampakkan auratnya pun
mereka enggan. Takut kepada Allah akan adzab yang mereka terima jika
melanggar perintah Allah dan malu jika aurat mereka terlihat oleh yang
bukan muhrim.
Selain dikenal sebagai Khalifah yang cerdas, al-Ma’mun juga dikenal
sebagai Khalifah yang hafal Alquran dan ahli hadits. Abdullah bin
Idris, salah satu ulama hadits Kufah telah meriwayatkan 100 hadits
kepadanya. Setelah itu, al-Ma’mun pun mampu menghafalnya dengan baik di
depan gurunya, yang membuatnya terkagum akan kecepatan dan ketepatan
hafalannya.
Sahabat Hikmah...

Malu itu sebagian dari iman.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. : Nabi Saw. Pernah bersabda ;
“Iman meliputi lebih dari enam puluh cabang atau bagian. Dan Al haya’ (rasa malu) adalah sebuah cabang dari iman.” (HR. Bukhari)
Rasa malu itu keberkahan.
Dengan rasa malu kita terhalang dari dosa.
Dari
Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshari Al Badri ra. berkata, Rasulullah
saw telah bersabda, “Sesungguhnya sebagian yang masih dikenal umat
manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak
malu, maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR. Bukhari)
Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa saja yang tak berguna baginya (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, Ibn Hibban, al-Baihaqi dan Malik).
Hadis ini dikeluarkan oleh at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban dalam Shahîh Ibn Hibban; al-Baihaqi dalam Syu’ab al-îmân; dan al-Qadha’i dalam Musnad Syihâb. Hadis ini riwayat az-Zuhri dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah ra. At-Tirmidzi berkomentar, “Ini merupakan hadis gharib. Kami tidak mengetahuinya dari hadis Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. kecuali dari jalur ini”.
Hadis ini juga dikeluarkan oleh at-Tirmidzi; Malik dalam Al-Muwatha’; Abdurrazaq dalam Mushannaf; al-Baihaqi dalam Syu’ab al-îmân. Hadis ini riwayat Ibn Syihab az-Zuhri dari Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Riwayat dari Ali bin al-Husain ini statusnya mursal sebab ia adalah tabi’un dan tidak disebutkan perawi Sahabatnya. Menurut at-Tirmidzi riwayat ini lebih sahih daripada riwayat yang pertama.
Abdullah bin Nuh atau yang lebih dikenal dengan panggilan ‘Mamak’ adalah seorang ulama, tokoh pendidikan, sastrawan dan pejuang. Pria shalih yang lahir di Kampung Meron Kaum, Kota Cianjur Jawa Barat pada tanggal 6 Juni 1905 ini1, melalui
tabanni pendapat Imam Al-Ghazali, sangat gigih menyerukan agar masyarakat berpegang teguh pada ajaran atau syariah Islam.
Dalam memahami konsepsi tentang hakikat manusia dan potensinya, putra dari pasangan KH Raden Muhammad Nuh dan Nyi Raden Hajja ‘Aisyah ini menyeru manusia, tatkala sudah balig, untuk berpikir tentang adanya Allah melalui penciptaan-Nya agar memiliki keyakinan yang kokoh melalui proses berpikirnya. Mamak menegaskan, “Sekiranya di dunia ini saya tidak menemukan kecuali hanya sebutir atom saja, itu pun bagi saya sudah lebih dari cukup untuk dapat mengetahui dan mengenal (ma’rifat) adanya Sang Pencipta, Allah SWT. Lalu bagaimana ketika saya menyaksikan alam raya ini tercipta dan terbentuk dari berbagai macam unsur atom yang tidak sanggup menghitungnya? Dan dengan sistem yang rapi lagi sempurna, disertai pengaturan yang menakjubkan dan bijaksana?”2
Krisis itu menemui puncaknya pada 14 Juli 1789. Perancis berkobar
menuju revolusi. Penjara Bastille dijebol. Gubernur de Launay terbunuh.
Simbol absolutisme kerajaan runtuh. Jargon-jargon kebebasan, persamaan
derajat, dan persaudaraan dikobarkan. Senjata diangkat melawan serdadu
Louis dan Antoinette. Sang raja dan ratu sendiri akhirnya harus
merelakan kepalanya dipancung guillotine.
Ketidakpuasan sosial atas asas-asas feodal di Perancis masa itu jadi
salah satu sebab. Pajak mencekik diterapkan pada kaum papa. Sementara di
Versailles, raja dan ratu hidup mewah dengan sokongan belasan ribu
pelayan. Dan pihak gereja pun secara mengejutkan—bagi saya, paling
tidak—juga memiliki hak untuk menarik pajak dari rakyatnya.
Oleh Hafidz Abdurrahman
Negara Khilafah adalah negara ideologis yang dibangun berdasarkan
ideologi Islam serta untuk menerapkan dan mengemban Islam sebagai
ideologi ke seluruh dunia. Ideologi inilah yang akan menentukan haluan
negara, termasuk berbagai kebijakan negara dalam seluruh aspek
kehidupan. Karena itu, negara Khilafah dengan kekayaan intelektual yang
dibangun berdasarkan ideologi yang shahih, yaitu Islam, ini
benar-benar merupakan negara merdeka dengan pengertian yang
sesungguhnya. Negara yang memiliki kedaulatan, kekuasan, keamanan dan
disegani oleh kawan maupun lawan, serta jauh dari hegemoni negara
maupun lembaga manapun di dunia.
Dua Tetes dan Dua Bekas yang Paling Dicintai Allah
Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada dua tetes dan dua bekas. Setetes air mata yang menetes karena takut kepada Allah, dan setetes darah yang tumpah di jalan Allah. Adapun yang dua bekas, maka yaitu bekas-di antaranya adalah bekas jihad-di jalan Allah, dan bekas dari melakukan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban dari Allah.” (HR. Tirmidzi). Abdullah bin Umar, semoga Allah senantiasa meridhai keduanya berkata: “Sungguh aku meneteskan air mata karena takut kepada Allah itu lebih aku cintai daripada aku bersedekah seribu dinar.” (HR. Baihaqi dalam Sya’bul Iman).
Sebagian Amal Ahli Surga
Nabi saw bersabda: Sungguh jika seorang muslim berinteraksi dengan masyarakat dan sabar atas hal-hal yang menyakitkan dari mereka (akibat interaksi), lebih baik daripada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tidak sabar atas hal-hal yang menyakitkan dari mereka (HR. at-Tirmidzi, 9/416).
Mengikuti Sunnah
Umar bin Abdil Aziz pernah berkata: Rasulullah saw dan para pemimpin setelahnya telah menjalankan berbagai sunnah. Mengambil sunnah tersebut sama dengan membenarkan kitabullah, menyempurnakan ketaatan kepada ALLAH dan menguatkan agama ALLAH. Siapa saja yang mengamalkannya niscaya akan mendapatkan petunjuk, siapa yang memohon pertolongan kepada ALLAH dengan menjalankan sunnah maka ia pasti akan ditolong. Siapa yang menyalahi sunnah maka ia telah mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, ALLAH akan memalingkannya dari kebenaran dan memasukannya ke neraka jahannam
(Ibnu Abdil Barr dalam jami’ bayan al-ilm juz 2 hal 187)
Pengaruh Dosa dan Taat
Rasulullah SAW telah bersabda: perumpamaan orang yang melakukan keburukan (dosa) kemudian melakukan kebaikan (taat) seperti orang yang memakai baju sempit yang mencekiknya. Kemudian dia berbuat baik maka lepaslah 1 lingkaran, kemudian ia berbuat baik lagi, maka lepaslah 1 lingkaran yang lain hingga akhirnya ia bisa melepaskan dirinya dari cekikan baju tersebut. (HR. Ahmad & Thobroni)
Hati Bersih dan Kotor
Rasulullah SAW pernah bersabda: Fitnah (dosa) akan datang menyambangi hati berturut-turut secara bergantian. Maka hati mana saja yang dimasukinya akan terdapat titik hitam, dan hati mana saja yang mengingkarinya maka terdapat titik putih, hingga ahirnya adalah 2 hati. Pertama, hati yang putih bersih seperti batu yang licin dan mengkilap, hati seperti ini tidak akan bisa dipengaruhi oleh fitnah (dosa) selama ada langit dan bumi (selamanya). Kedua, hati yang hitam legam bagaikan gelas yang terbalik (tumpah), hati seperti ini tidak mengenal kebaikan (Islam) dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali hanya mengenal nafsu yang masuk kedalamnya. (HR. Muslim)